Nesa tertawa kecil, tangan kanannya dengan santai memutar belati melengkung yang tajam. "Sungguh percaya diri untuk seseorang yang hampir tidak bisa berdiri. Kau pikir keberuntunganmu akan bertahan?"

"Ini bukan soal keberuntungan," balas Lynx, meskipun tubuhnya terasa berat.

"Benarkah?" Nesa berhenti beberapa langkah darinya, menyandarkan tangannya di pinggang. "Jangan bercanda. Kau hanya menang karena makhluk-makhluk itu tidak cukup pintar. Sekarang, mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan melawan seorang prajurit sejati."

Tanpa aba-aba, Nesa melompat maju dengan kecepatan luar biasa, dengan belatinya yang terbuat dari tulang hewan, tampak berkilat tajam di bawah cahaya matahari. Lynx hanya memiliki waktu sepersekian detik untuk mengangkat parangnya, menangkis serangan yang hampir mengenai lehernya. Suara beradu menggema, dan getaran dari benturan itu membuat tangan Lynx berdenyut.

"Hebat juga senjatamu bisa merusak senjataku." Kata Nesa kagum, dia baru menyadari senjata yang digunakan Lynx terlihat berbeda dengan senjata yang pernah ditemui sebelumnya.

"Tapi kau lambat," ejek Nesa sambil memutar tubuhnya, menyerang lagi dengan gerakan yang lebih cepat. "Kau harus berusaha lebih keras."

Lynx menghindar dengan gerakan gesit, tapi setiap serangan Nesa datang dengan arah yang tidak terduga, memaksanya terus bertahan. Ia mengayunkan parangnya ke arah Nesa, tapi dengan mudah dia menunduk, lalu menyerang balik dengan tusukan ke arah perut Lynx. Lynx melangkah mundur tepat waktu, tapi ujung belati itu masih menyayat bajunya.

"Kau pasti lelah, ya?" Nesa tertawa kecil, matanya berkilat penuh ejekan. "Apa ini semua kemampuanmu? Orang-orang Sinto sepertimu benar-benar payah."

"Aku bukan dari Sinto," balas Lynx dengan napas berat. Ia menyerang balik, ayunan parangnya kali ini lebih cepat dan kuat. Nesa memutar tubuhnya dengan cepat, menghindari serangan itu tanpa kesulitan.

"Oh, aku tahu," Nesa membalas sambil melompat ke belakang, menjaga jarak. "Kau bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kebetulan cukup bodoh untuk ikut campur urusan kami."

"Aku tidak peduli apa katamu," kata Lynx, mencoba mengatur napasnya. "Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan desa ini."

Nesa menyeringai, kemudian menyerang lagi, kali ini dengan serangkaian serangan cepat yang membuat Lynx terdesak mundur. Belatinya hampir mengenai wajah Lynx, tapi Lynx berhasil mengangkat parangnya di saat terakhir.

"Kau tidak bisa menang," kata Nesa sambil terus menyerang. "Aku sudah melihat kelemahanmu. Kau cepat, tapi kau tidak punya stamina. Lihat dirimu sekarang—kau sudah setengah mati."

Lynx tidak menjawab. Ia tahu Nesa benar. Tubuhnya mulai melambat, dan serangan-serangan Nesa menjadi semakin sulit untuk dihindari. Namun, ia tetap fokus, menunggu celah dalam serangan musuhnya.

Nesa melompat ke depan, mencoba menyerang dada Lynx dengan tusukan cepat. Lynx menggeser tubuhnya ke samping, lalu dengan gerakan mendadak, ia memutar parangnya ke arah kaki Nesa. Serangan itu mengenai lutut Nesa, membuatnya terhuyung mundur.

"Akhirnya," ujar Lynx, meskipun suaranya terdengar lemah.

Nesa menyentuh lututnya yang berdarah, lalu menatap Lynx dengan sorot mata penuh kebencian. "Berani sekali," katanya, nadanya berubah lebih dingin. "Kau akan menyesal."

Ia menyerang lagi dengan amarah, serangannya lebih liar tapi juga lebih kuat. Lynx berusaha menghindar, tapi kali ini ia tidak cukup cepat. Belati Nesa menggores bahunya, meninggalkan luka yang dalam.

"Argh!" Lynx terhuyung, darah mengalir deras dari lukanya. Tapi ia menggertakkan giginya, tetap berdiri.

Lynx berdiri di tengah rawa dengan tubuh penuh luka, napasnya terengah-engah. Namun, matanya tetap terfokus pada Nesa, yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Belati melengkung di tangan Nesa gemetar, serangan-serangannya yang sebelumnya anggun dan cepat kini menjadi lebih lambat dan lebih ceroboh.

"Kau... masih berdiri?" Nesa mendesis, mengusap darah yang mengalir dari luka di lututnya. "Kau benar-benar keras kepala. Tapi itu hanya akan membuat kematianmu lebih menyakitkan."

"Aku tidak akan kalah," jawab Lynx tegas. Tangannya yang memegang parang bergetar, tapi ia terus maju dengan langkah mantap.

Nesa menggeram, melompat ke depan untuk menyerang lagi. Tapi kali ini, Lynx tidak mundur. Ia melawan dengan keberanian yang hampir seperti putus asa. Parangnya beradu keras dengan belati Nesa, membuat retakan senjata Nesa semakin dalam . Setiap serangan Lynx semakin kuat, membuat Nesa terpaksa mundur selangkah demi selangkah.

"Dasar gila!" Nesa berteriak, serangan-serangannya kini semakin ceroboh karena amarah. Ia mencoba menusuk dada Lynx, tapi pria itu menghindar dengan cepat, kemudian membalas dengan tebasan yang mengenai lengan Nesa.

"Argh!" Nesa meringis kesakitan, darah segar mengalir dari lukanya. Ia terhuyung, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini berubah tegang.

"Kau mulai lelah, ya?" ujar Lynx sambil menatapnya tajam. "Kau bicara besar tadi. Mana keberanianmu sekarang?"

"Beraninya kau!" Nesa melompat lagi, menyerang dengan serangan yang lebih liar. Tapi Lynx, meskipun tubuhnya penuh luka, berhasil memanfaatkan kelemahan Nesa. Ia terus bergerak, menghindar dengan gesit, dan menyerang balik dengan ketepatan yang mematikan. Belatinya kembali menyerang, tapi Lynx menangkisnya, membuat Nesa semakin frustasi.

Dari kejauhan, Jor, yang sebelumnya menonton dengan tawa kecil, kini menyipitkan mata. "Dia memojokkannya," gumamnya.

Revan, yang berdiri tak jauh darinya, tidak berkata apa-apa. Wajahnya penuh emosi, rahangnya mengeras saat melihat Nesa semakin kewalahan. Ia mengepalkan tinjunya, tapi tidak bergerak.

"Dia tidak akan bertahan lama sendiri," kata Jor akhirnya. Ia menepuk pundaknya sendiri, lalu mulai melangkah ke depan. "Aku akan membantu. Tidak ada gunanya mempermalukan diri lebih lama."

Revan tidak mencegahnya, hanya menatap ke depan dengan mata dingin.

Nesa terhuyung ke belakang, dadanya naik-turun saat ia berusaha mengatur napas. Lynx maju perlahan, meskipun kakinya bergetar karena kelelahan. Ia mengangkat parangnya, bersiap untuk menyerang lagi.

Namun, sebelum Lynx sempat melancarkan serangan, suara langkah berat terdengar. Dari sisi rawa, tubuh besar Jor muncul, wajahnya penuh senyum mengejek.

"Cukup sudah," katanya dengan suara berat. "Nesa, kau sudah bersenang-senang, tapi sekarang giliran aku."

Lynx menoleh ke arahnya, dan Nesa dengan cepat mengambil kesempatan untuk mundur, mengusap luka di lengannya. "Dia... lebih sulit dari yang kukira," gumam Nesa, meskipun wajahnya memerah karena malu.

"Ya, aku melihat itu," kata Jor sambil tertawa kecil. Ia mengangkat gada besar yang ia bawa, senjatanya yang berat itu memantulkan sinar matahari. "Jadi, kau yang membuat kekacauan ini? Kau pikir kau cukup tangguh melawan kami?"

Lynx mengatur napasnya, mengangkat parangnya lagi meskipun tubuhnya bergetar. "Kalau kau ingin mencoba, aku siap."

Jor tertawa keras, suaranya seperti gemuruh. "Kau? Siap? Lihat dirimu, kau bahkan tidak bisa berdiri tegak. Kau pasti yang membunuh Kargo. Dia memang lemah, tapi kau tidak akan seberuntung itu kali ini."

Tanpa aba-aba, Jor menyerang, mengayunkan gadanya dengan kekuatan besar. Lynx melompat ke samping, menghindari serangan yang menghancurkan tanah di tempatnya berdiri. Debu dan lumpur beterbangan, tapi Lynx tetap berdiri, matanya tajam mengawasi gerakan Jor.

"Kau cepat," kata Jor, sedikit terkejut. "Tapi aku ingin tahu, sampai kapan kau bisa menghindar?"

Lynx tidak menjawab, hanya bergerak cepat ke belakang Jor, mencoba menyerang dari arah punggungnya. Tapi Jor lebih tangguh daripada yang ia kira. Dengan kecepatan yang tidak sesuai tubuhnya yang besar, Jor memutar tubuhnya dan memblokir serangan Lynx dengan gada.

"Bagus, kau punya nyali," ujar Jor sambil menyeringai. "Tapi nyali saja tidak cukup."

Ia menyerang lagi, gadanya menyapu udara dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan pohon. Lynx terus menghindar, tapi gerakannya semakin lambat karena kelelahan. Sebuah pukulan dari gada itu akhirnya mengenai bahunya, membuat Lynx terlempar ke tanah dengan keras.

"Lynx!" Leena berteriak dari kejauhan, tapi ia tidak bisa meninggalkan posisinya di barisan pertahanan.

Lynx berdiri dengan susah payah, menggenggam parangnya lebih erat meskipun tangannya berdarah. "Aku tidak akan berhenti," katanya, menatap Jor dengan mata penuh tekad.

"Oh, aku suka itu," kata Jor sambil tertawa. "Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan."

Jor menyerang lagi, tapi Lynx kali ini tidak hanya menghindar. Ia melompat ke depan, menyerang dengan parang yang diarahkan ke lutut Jor. Serangan itu mengenai sasaran, membuat Jor menggeram kesakitan.

"Tsk!" Jor menendang ke arah Lynx, tapi Lynx melompat ke samping, menghindari serangan itu. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menyerang lagi, menebas lengan Jor yang memegang gada. Darah segar memancar dari luka itu, tapi Jor tetap berdiri, wajahnya berubah gelap.

"Cukup bermain-main!" Jor mengayunkan gadanya dengan mengeluarkan kekuatan penuh, tapi Lynx meluncur ke bawah, menyerang perut Jor dengan tebasan cepat. Jor terhuyung, darah mengalir deras dari tubuhnya.

Di kejauhan, Revan yang menyaksikan itu akhirnya mengepalkan tinjunya. "Lynx... dia lebih tangguh dari yang kukira," gumamnya pelan, matanya memancarkan amarah yang dingin. "Tapi dia belum selesai. Aku akan memastikan itu."

Lynx berdiri dengan tubuh gemetar, peluh dan darah bercampur membasahi wajah dan pakaiannya. Di hadapannya, Nesa dan Jor, meskipun terluka, masih bertarung dengan penuh keganasan. Dua lawan sekaligus membuat setiap gerakan Lynx terasa semakin berat, tapi ia terus bertahan, menangkis dan menyerang balik dengan keberanian yang hampir seperti kegilaan.

"Berhentilah melawan!" bentak Nesa, wajahnya merah karena kelelahan dan amarah. "Kau hanya menunda kematianmu!"

"Kau sudah sekarat, bocah!" Jor menimpali dengan suara berat sambil mengayunkan gada besarnya. "Kau tidak bisa bertahan lebih lama lagi!"

Lynx melompat ke belakang, menghindari gada Jor yang menghantam tanah dengan gemuruh. Serangan itu membuka celah kecil, dan dengan keberanian nekat, Lynx melompat ke depan, menyerang Nesa dengan tebasan cepat. Parangnya mengenai bahu Nesa, meninggalkan luka besar yang membuat Nesa terhuyung mundur sambil berteriak kesakitan.

"Argh! Sialan!" Nesa mencengkeram luka di bahunya, darah mengalir deras dari celah jarinya. "Dia... dia tidak akan menyerah!"

"Kau benar," ujar Lynx, suaranya serak namun penuh tekad. "Aku tidak akan berhenti sampai kalian semua hancur."

"Cukup." Suara dingin Revan menggema, memotong suasana yang sudah tegang. Dari kejauhan, ia mulai melangkah mendekat dengan perlahan, matanya menatap Jor dan Nesa tanpa emosi.


